Swallowing Therapy terhadap Disfagia pada Pasien Stroke: Literature Review
Abstract
Stroke dengan adanya kerusakan saraf kranial trigeminal, fasialis, glosofaringeal, vagal, dan hipoglosus dapat menyebabkan disfagia. Pasien stroke yang mengalami disfagia menyebabkan gangguan menelan dan memiliki risiko 3 kali lebih tinggi terhadap Stroke Associated pneumonia (SAP) dibandingkan dengan pasien stroke tanpa disfagia. Swallowing therapy adalah bagian dari intervensi keperawatan sebagai upaya memulihkan kemampuan menelan untuk mencegah terjadinya komplikasi akibat gangguan menelan. Tujuan melakukan analisa penelitian sebelumnya tentang Swallowing therapy terhadap disfagia pada pasien stroke. Metode dalam literature review ini dimulai dari pencarian artikel di beberapa jurnal, yaitu Google scholar, ResearchGate, Sciencedirect, pubmed, dan proquest dengan menggunakan kata kunci, kemudian menyeleksi artikel sesuai dengan kriteria inklusi. Artikel yang sudah diseleksi dilakukan analisis atau dibuat sintesis data dalam bentuk tabel Artikel diperoleh dengan menggunakan cara akses internet atau online, seperti Google scholar, ResearchGate, Sciencedirect, pubmed, proquest dengan rentang waktu penerbitan 5 tahun terakhir (2016-2020). Artikel tersebut secara fulltext dapat diakses dengan artikel jurnal berbahasa indonesia dan inggris. Dari 10 artikel yang dianalisis, terdapat 6 artikel yang meneliti tentang swallowing therapy. Swallowing therapy adalah salah satu tindakan atau usaha latihan secara langsung dengan memberikan terapi diet secara bertahap sesuai yang dianjurkan oleh ahli diet. 6 artikel yang meneliti tentang swallowing therapy semua menunjukkan bahwa terapi ini mempunyai dampak positif yaitu adanya peningkatan fungsi menelan atau pasien yang mengalami disfagia.